Citra Sebuah Kota – Anak Muda – Seni dan Komunitas

Anak Muda Bali, Seni dan Komunitas

Waktu ada kegiatan beberapa hari di beberapa desa di Bali, kulihat hampir semua anak-anak perempuan pandai menari dan anak laki-laki pandai melukis. Beberapa anak juga pandai mengukir dan mengerjakan bentuk-bentuk kesenian lain. Menjelang Nyepi anak laki-laki, tanpa ada yang menyuruh dan mengorganisir, akan berkelompok membuat ogoh-ogoh.

Menari, melukis dan berkesenian lainnya itu mereka lakukan seperti “alamiah” saja. Sejak anak-anak itu lahir, lingkungan pergaulan di desa telah mengkondisikan mereka menjadi seniman. Interaksi keseharian mereka di desa itu dapat dikatakan melalui kegiatan seni. Bahkan seni itu mungkin bukanlah entitas tersendiri. Ia hadir dan menyatu dalam agama, kekerabatan, mata pencarian, dan “unsur-unsur” kebudayaan lainnya.

Di sana memang ada semacam sanggar kesenian, tapi itu bukanlah berfungsi sebagai tempat kursus. Sanggar itu hanya menjadi simpul kegiatan seni yang sudah mereka hayati dari generasi ke generasi.

Sebagian dari anak-anak itu pada saatnya akan tersedot dalam industri pariwisata, sebagian lainnya akan menjalani peran-peran yang lain dengan tetap memiliki ikatan batin pada kesenian Bali.

Anak Muda Ambon, Alat Musik dan Bernyanyi

Di Ambon akan kita jumpai hampir semua anak-anak pandai dan suka bernyanyi. Di setiap sudut kota hingga pelosok desa mereka akan bernyanyi dan memainkan alat musik tanpa harus ada yang menyuruh atau memfasilitas. Kualitas suara dan teknik bernyanyi mereka, baik sendiri maupun grup, sangatlah baik. Meski pun di sana ada sekolah dan kursus musik, tapi umumnya kepandaian bernyanyi dan bermusik itu mereka dapatkan dari interaksi sehari-hari di komunitas yang memang sudah terkondisi secara “mekanis”. Sepertinya sejak lahir ceprot mereka sudah jadi penyanyi.

Semua orang tahu, banyak orang Ambon yang menjadi penyanyi profesional di level nasional. Tentu lebih banyak yang menjalani profesi lain, meski demikian menyanyi adalah jiwa mereka.

citra-sebuah-kota

Anak Muda, Kota Seni dan Kota Budaya

Di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota seni dan kota budaya, banyak juga anak-anak yang pandai melukis, bermusik atau kegiatan seni lain. Umumnya saat ini mereka adalah produk sekolahan atau tempat-tempat kursus. Kegiatan seni bagi anak-anak dan keluarga mereka menjadi semacam pencapaian pribadi, bukan dalam rangka hidup berkomunitas. Itu pun hanya terjadi pada anak-anak dari kelas sosial menengah ke atas di perkotaan. Bagi anak-anak dari kelas bawah atau yang tinggal di pinggiran, gema slogan kota seni budaya itu terasa sangat lemah.

Tidak seperti menari dan melukis bagi anak-anak di Bali, atau bernyanyi bagi anak-anak Ambon, kesenian bagi umumnya anak-anak di kampung-kampung di Yogya taubahnya kegiatan ekstra kurikuler saja. Bukan hal pokok dan tidak terkait langsung dengan cara hidup sehari-hari (kecuali anak2 dari keluarga seniman).

Di Yogyakarta sangat sering diadakan pameran dan pementasan kesenian dan festival-festival kebudayaan. Hampir semua kegiatan tersebut bersifat atau berbasis ivent, yang dibuat dan dikerjakan oleh seniman-seniman profesional dengan dukungan dana dari pemerintah atau lembaga non pemerintah. Masyarakat umum yang bukan seniman akan menjadi penonton yang baik dalam rangka mendukung citra kota budaya yang adiluhung dan gemerlap.

Sementara itu. Agak jauh dari gemerlap itu. Dari pinggiran kota. Sekelompok anak muda usia belasan naik motor berboncengan. Kelayapan malam-malam. Membawa senjata tajam. Mencari mangsa secara acak. Tanpa motif apa pun selain mencelakai orang.

Aan Subhansyah

Aan Subhansyah adalah peneliti etnografi dan praktisi pemberdayaan komunitas. Lahir di Bangka, tamatan Jurusan Antropologi UGM. Saat ini berdomisili di Sleman bersama istri dan dua anak laki-lakinya.

error: Content is protected !!